Selasa, 08 Desember 2015

WHO: Daging Babi Asap, Sosis dan Daging Olahan Menyebabkan Kanker

Daging olahan seperti bacon (daging babi asap) dan ham menjadi penyebab kanker, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporannya mengatakan mengkonsumsi 50 gram daging olahan perhari meningkatkan resiko terkena kanker kolorektal sebesar 18%.

 
daging olahan

Klasifikasi, digariskan oleh Badan WHO untuk Penelitian Kanker Internasional (IARC), melihat daging olahan mengandung "karsinogenik untuk manusia," peringkat tertinggi dari lima jenis bersama dengan alkohol, asbestos, arsenic dan rokok.
IARC memperkirakan bahwa 34.000 kematian akibat kanker per tahun di seluruh dunia dapat dikaitkan dengan konsumsi tinggi daging olahan.

Yang membandingkan dengan sekitar satu juta kematian akibat kanker per tahun secara global dari merokok, 600.000 per tahun karena konsumsi alkohol, dan lebih dari 200.000 tahun karena polusi udara.


Namun, WHO juga mengatakan daging memang memiliki manfaat kesehatan.

Daging Merah
Daging sapi dan domba  "bisa menjadi bagian dari diet yang sehat," katanya, dan daging merah "adalah sumber protein yang baik dan menyediakan vitamin dan mineral, seperti zat besi dan seng".

Daging olahan telah dimodifikasi untuk meningkatkan jangka waktu konsumsi atau memodifikasi rasa, seperti dengan diasapi, diawetkan, ditambahkan garam atau bahan pengawet. Penambahan-penambahan ini yang dapat meningkatkan resiko kanker.
 


Laporan itu juga mengatakan daging merah yang "mungkin karsinogenik," dan dikaitkan dengan kanker pankreas dan prostat

Kesimpulan didasarkan pada karya panel 22-anggota dari para ahli internasional, yang mengulas satu dekade penelitian tentang hubungan antara daging olahan, daging merah, dan kanker.

"Untuk seorang individu, risiko terkena
kanker kolorektal [usus]  karena konsumsi daging olahan tetap kecil, tapi risiko ini meningkat dengan jumlah daging yang dikonsumsi," Dr Kurt Straif dari WHO mengatakan.

Namun, penelitian tidak menyarankan makan daging olahan adalah sama berbahayanya dengan merokok.

Laporan IARC tidak membandingkan tingkat risiko kanker yang berhubungan dengan produk dalam kategori tertentu.

"Daging merah dan olahan tidak mengakibatkan kanker dan sebenarnya laporan IARC tidak mengatakan bahwa makan daging olahan adalah sama berbahayanya seperti merokok," kata Profesor Robert Pickard, Profesor Emeritus dari Neurobiologi di Universitas Cardiff, Inggris. "Bahkan membandingkan daging merah dengan merokok itu konyol. "
 

"Menghindari konsumsi daging merah dalam diet bukanlah strategi protektif terhadap kanker. Prioritas utama bagi pencegahan kanker adalah berhenti merokok, menjaga berat badan yang normal dan menghindari asupan alkohol yang tinggi.

"Daging merah memiliki peran yang berharga dalam diet yang seimbang dan sehat berkat kandungan protein yang tinggi dan komposisi gizi yang kaya."
 


Sayang pak, harga daging di Indonesia mahal. Banyak orang yang cuma makan daging setahun sekali saat hari raya kurban. Jadi kesimpulannya laporan WHO dak ngefek ke orang Indonesia. Wallahuallam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar